Mitos Tanjakan Panganten Garut, Calon Pengantin Dilarang Naik Mobil Saat Melintas

Mitos Tanjakan Panganten Garut, Calon Pengantin Dilarang Naik Mobil Saat Melintas – Wilayah Garut memiliki kawasan perbukitan yang membentang segi utara sampai selatan. Dengan kontur seperti itu, banyak jalur yang memiliki tanjakan dan turunan yang lumayan tajam. Salah satu tanjakan yang lumayan terkenal di Kabupaten Garut adalah tanjakan panganten yang berada di Kampung Cisandaan, Desa Halimun, Kecamatan Pamulihan. Panganten sendiri merupakan bhs sunda yang berarti adalah pengantin.

Mitos Tanjakan Panganten Garut, Calon Pengantin Dilarang Naik Mobil Saat Melintas

mitos-tanjakan-panganten-garut-calon-pengantin-dilarang-naik-mobil-saat-melintas

Nama Tanjakan Panganten sendiri sesungguhnya disematkan oleh warga kurang lebih sebab konon katanya sebab di lokasi tersebut banyak terjadi kecelakaan yang melibatkan para calon pengantin.

Kondisi Tanjakan Panganten sendiri mampu dikatakan sesungguhnya lumayan membahayakan sebab kemiringannya menggapai 45 derajat. Selain itu, situasi jalannya pun memiliki tikungan yang terlampau tajam dilengkapi panjang jalur menggapai 700 meter.

Jurang, tebing, sampai hutan jadi penghias selama jalur Tanjakan Panganten sehingga menjadikan para penggunanya kudu hati-hati. Saat malam tiba, kondisinya tambah seram sebab minimnya penerang jalur dilengkapi kabut yang menghiasi perjalanan.

Salah seorang warga sekitar, Asep (28) menyebut bahwa jumlah kecelakaan udah terlampau kerap terjadi sehingga ia tidak mampu mengingat jumlahnya. Namun yang kerap ia dengar, calon pengantin dan rombongan pengantin paling kerap jadi korban kecelakaan di lokasi tersebut.

“Memang jika tidak keliru tersedia asal usulnya kenapa sesudah itu dinamai Tanjakan Panganten. Tapi saya termasuk tidak cukup mengetahui tentu sebab cerita itu termasuk saya dapatkan berasal dari orang tua. Dan sesungguhnya tersedia termasuk larangan calon pengantin atau lebih-lebih rombongan pengantin naik mobil melalui tanjakan ini,

Warga sekitar, kata Asep, tidak sedikit yang yakin dengan cerita magis Tanjakan Panganten bagi para calon pengantin yang melalui jalur tersebut. Atas perihal tersebut, tidak jarang sesudah itu warga yang mengetahui tersedia rombongan calon pengantin yang lewat segera mencegatnya.

“Biasanya berharap sehingga sang calon pengantin dan rombongan turun berasal dari mobil dan diarahkan sehingga memanfaatkan sepeda motor. Mobil sendiri sesudah itu disopiri oleh warga. Percaya tidak percaya, tetapi itu yang suka dilakukan,” ungkapnya.

Entah sebab sugesti atau sebab situasi jalannya yang membahayakan, waktu rombongan pengantin memaksakan diri memaksakan diri tetap saja kecelakaan lalu lintas terjadi. Tidak jarang mobil rombongan masuk jurang yang kedalamannya lebih berasal dari 100 meter itu.

“Ada yang meninggal tersedia termasuk yang luka-luka. Bisa yakin atau enggak memang, tetapi kejadian itu kerap terjadi di sini,” katanya.

Namun meski demikian, Asep termasuk menyebut bahwa sesungguhnya sesungguhnya bukan cuma calon dan rombongan pengantin saja yang kerap jadi korban kecelakaan di Tanjakan Panganten. Sejumlah kendaraan lainnya, baik yang kecil, maupun kendaraan berat, sampai sepeda motor pun kerap kecelakaan di lokasi tersebut.

Kapolres Garut, AKBP Dede Yudi Ferdiansah mengatakan bahwa Tanjakan Panganten merupakan keliru satu jalur di Kabupaten Garut yang tingkat kerawanan di dalam kecelakaannya lumayan tinggi. Namun ia membantah bahwa mitos rombongan calon pengantin tetap jadi korban waktu melintas.

“Tapi secara lazim sesungguhnya lokasi tersebut daerah yang rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Namun jika korbannya tetap rombongan calon pengantin tidak juga,” ucapnya.

Untuk meminimalisasi jumlah korban dan kecelakaan, Kapolres menyebut bahwa pihaknya laksanakan cara pembuatan bronjong di segi bahu jalan. Hal tersebut dilakukan untuk halangi kendaraan sehingga waktu kecelakaan tidak segera terjun bebas ke jurang.

“Umumnya sesungguhnya kendaraan yang mengalami kecelakaan ini akibat situasi rem yang tiba-tiba blong sehingga sesudah itu terjun ke jurang. Jadi pembuatan bronjong ini kami laksanakan untuk meminimalisasi efek kecelakaan,” katanya.

Sementara itu Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Garut, AKP Rizky Adi Saputro menyebut bahwa faktor utama di dalam kecelakaan adalah pengemudinya. “Terlepas berasal dari apa yang diyakini warga, pengemudi kudu hati-hati waktu melintasi Tanjakan Panganten. Kendaraan pun waktu digunakan kudu prima. Kuncinya itu,” ucap Rizky.

Jika menelisik penyebab kecelakaan yang terjadi di Tanjakan Panganten, Rizky menyebut bahwa penyebab utamanya kebanyakan akibat situasi kendaraan yang tidak cukup baik dan tidak cukup hati-hatinya pengemudi.

Ia mengatakan bahwa sebaiknya tiap-tiap pengemudi yang dapat menuju Garut Selatan lewat Tanjakan Panganten waktu menurun atau menanjak sebaiknya memanfaatkan gigi rendah. “Tujuannya sehingga kendaraan mampu melalui waktu di tanjakan, dan waktu di turunan rem terbantu dengan perputaran mesin,” jelasnya.

Sementara itu Kapolsek Pamulihan, Ipda. Saep Balya mengatakan bahwa sejak tiga th. terakhir (2016-2019) jumlah kecelakaan di Tanjakan Panganten tercatat sebanyak 21 kali. Tercatat jumlah korban meninggal dunia sebanyak tiga orang, luka berat sebanyak tujuh 8rang dan 32 orang mengalami luka-luka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *