Mengenal Hanjuang, Tanaman Obat dan Tolak Bala Masyarakat Girijaya Sukabumi

Mengenal Hanjuang, Tanaman Obat dan Tolak Bala Masyarakat Girijaya Sukabumi – Indonesia merupakan keliru satu negara yang dikaruniai kekayaan sumber energi alam yang melimpah. Salah satu kekayaan alam nusantara adalah berbentuk bervariasi flora yang tersebar di segala penjuru negeri.

Mengenal Hanjuang, Tanaman Obat dan Tolak Bala Masyarakat Girijaya Sukabumi

mengenal-hanjuang-tanaman-obat-dan-tolak-bala-masyarakat-girijaya-sukabumi

Di DesaGirijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, terkandung tanaman yang dianggap istimewa dikarenakan punyai fungsi yang luar biasa. Tanaman ini bernama hanjuang dan dipercaya mampu merawat penduduk berasal dari mara bahaya.

daun tanaman dengan nama latin Cordyline yang berwarna merah ini punyai bervariasi takaran bermanfaat layaknya zat flavonoid, tanin, saponin, zat besi, timidine, kalsium oksalat, steroida, polisakarida, dan polifenol.

Selain itu, tanaman yang biasa disebut Andong ini terhitung punyai pembawaan antibakteri, antikoagulan, dan antiproliferatif yang setara dengan takaran anti kanker supaya benar-benar cocok untuk menyembuhkan disentri, wasir, radang gusi, dan batuk berdarah dan juga mampu melancarkan haid.

tanaman ini dianggap sebagai Sawen Tulak Bala yang dipercaya punyai kemampuan tertentu untuk mengusir dan menolak segala mara bahaya.

Secara turun temurun, penduduk Desa Girijaya yakin kalau tanaman tersebut ditanam di depan rumah dapat merawat pemilik rumah berasal dari perihal yang tidak diinginkan, layaknya kiriman guna-guna maupun santet.

Biasanya tanaman unik tersebut diikat dan diberi doa lantas ditempatkan di titik tertentu, baik di dalam maupun di luar rumah supaya pemilik rumah diberi keselamatan.

Tanaman hanjuang dipercaya mampu menjauhi penduduk berasal dari beragam bahaya. Dalam naskah Sunda kuno Sang Hyang Sasana, tercantum bahwa bencana di dunia merupakan sebuah ‘derita’ yang dideskripsikan dengan kota yang terbakar, gagal panen, munculnya wabah penyakit, kekeringan panjang, gagal panen, sampai seluruh hewan mati.

Semua itu terjadi tidak lain dikarenakan keliru laku manusia melalui ucapannya, pikirannya, dan perbuatan jahat. Berdasarkan catatan sejarah, layaknya dalam cerita di kerajaan Sumedanglarang (1578-1610) yang sekarang jadi kota Sumedang, “hanjuang” dijadikan sebuah “totonde” (tanda atau alamat) kemenangan dalam peperangan.

Masyarakat di Girijaya selamanya meletakkan tanaman ini sebagai pembatas lahan pertanian, layaknya sawah, ladang, kebun, maupun sebagai pembatas pagar rumah punya teristimewa dan punya tetangga.

Tanaman hanjuang ini terhitung dianggap sebagai pagar pembatas supaya tidak terjangkit penyakit.

Dalam naskah sunda kuno tersebut, terkandung kata-kata berbahasa sunda yang berbunyi “ditihangan ku hanjuang” (disanggah menggunakan tiang “hanjuang”).

“Hanjuang” dalam perihal ini merujuk terhadap tiang penyangga sebuah bangunan supaya kuat dan tidak roboh. Oleh dikarenakan itu, “hanjuang” bagi penduduk Sunda dianggap tanaman pembatas, kuat, dan istimewa dikarenakan dianggap mampu jadi pagar yang merawat penduduk berasal dari wabah penyakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *